SUARAEMPATLAWANG.COM
EMPAT LAWANG – Beberapa hari belakangan, muncul gelombang pemberitaan yang mendadak humanis terhadap sosok oknum Kepala Desa (Kades) yang dilaporkan JS atas dugaan keterlibatan dalam penangkapan dirinya. Media-media ini seolah sedang menyusun narasi pembelaan yang rapi, seakan-akan sang Kades adalah korban dari sebuah kesalahpahaman belaka.Tentu media sah-sah saja memberikan ruang klarifikasi kepada Kades.
Di sisi lain, muncul pula barisan media yang berdiri di belakang JS. Alasannya kuat, JS sudah memenangkan Praperadilan di Pengadilan Negeri Lahat dan divonis bebas atas kesalahan prosedur administrasi penangkapan dirinya. Bagi kubu ini, membela JS adalah membela kebenaran yang sudah disahkan negara.
Namun, di balik semangat pembelaan ini, terselip aroma solidaritas kedaerahan (sekampung) yang kental. Pers yang seharusnya objektif kini tampak seperti barisan pendukung dalam turnamen sepak bola antarkampung.
Rumor yang beredar di lapangan justru lebih menggelitik. Konon, perpecahan ini dipicu oleh rasa kurang dihargai. Beberapa wartawan yang merasa sudah berkeringat mengawal kasus ini sejak awal hingga JS akhirnya menang merasa “dilupakan” begitu saja saat kemenangan itu diraih.
Jika benar perpecahan ini hanya karena urusan “kurang dihargai” atau kontribusi yang tidak dianggap, maka ini adalah ironi terbesar. Apakah integritas sebuah berita kini diukur dari seberapa besar apresiasi (dalam berbagai bentuknya) yang diterima sang jurnalis?
Wartawan itu fungsinya mengontrol kekuasaan, bukan menjadi alat kekuasaan (Kades) atau alat dendam pribadi. Jika pena sudah digerakkan oleh rasa sakit hati karena tidak dihargai, maka yang lahir bukan berita, melainkan surat kaleng yang dipublikasikan.
Masyarakat Empat Lawang dipaksa menonton drama “perang saudara” antar media yang seharusnya menjadi mata dan telinga mereka.
Saat oknum aparat diduga salah langkah dan oknum pejabat desa ikut campur, wartawan seharusnya menjadi wasit yang galak, bukan malah sibuk gontok-gontokan karena urusan eksistensi atau pengakuan.
