EMPAT LAWANG – Ketenangan warga SP1 Palembaja terusik oleh mencuatnya dugaan aksi asusila yang dilakukan oleh pimpinan sebuah yayasan pendidikan agama berinisial AS (Ali Sadikin). Peristiwa ini memicu kemarahan para tokoh perempuan yang tergabung dalam Srikandi Cempaka Sakti, lantaran lingkungan yang seharusnya menjadi tempat menimba ilmu justru ternoda oleh perilaku bejat.
Kepercayaan Masyarakat yang Dikhianati
Menurut keterangan warga, AS awalnya dikenal sebagai sosok yang sering diundang dalam pengajian desa dan mendapat dukungan penuh saat berniat mendirikan pesantren. Namun, harapan masyarakat agar putra-putri mereka mendapatkan bimbingan akhlak justru berujung pada trauma mendalam bagi para korban.
”Pelaku awalnya sering diundang pengajian, lalu bersama mantan anggota dewan dikenalkan dengan ketua yayasan untuk izin mendirikan pesantren. Masyarakat mendukung, tapi bukannya menjaga desa kami, malah mengotori,” ujar Ibu Sella, salah satu warga dengan nada geram.
Salah satu korban diketahui merupakan anak dari keluarga broken home yang seharusnya mendapatkan perlindungan ekstra, namun justru menjadi sasaran tindakan asusila.
Simpang Siur Jumlah Korban
Informasi mengenai jumlah korban sempat menjadi perdebatan. Salah satu korban berinisial PS yang melarikan diri ke rumah neneknya mengungkapkan bahwa setidaknya ada empat orang yang mengalami nasib serupa selama berada di pondok.
Di sisi lain, pihak yayasan melalui Ustadz Arifin Hermawan membantah keras kabar yang menyebutkan korban mencapai sembilan orang.
”Tidak benar itu korban sampai sembilan orang. Yang benar empat orang. Jadi jangan mengada-ada, bisa saya tuntut nanti,” tegas Arifin saat dikonfirmasi.
Desakan Agar Kepolisian Bertindak Tegas
Sikap pihak kepolisian yang cenderung menunggu laporan resmi dari korban menuai kritik dari berbagai pemerhati sosial dan tokoh agama. Mengingat para korban merupakan anak-anak yang mengalami tekanan psikologis hebat, baik dari pelaku maupun lingkungan, masyarakat mendesak polisi untuk segera mengambil tindakan tanpa harus menunggu bola.
”Kasus ini sudah masuk ranah publik dan mencederai rasa keadilan. Polisi harus proaktif karena korban sudah mengalami trauma psikis yang luar biasa,” ungkap salah seorang tokoh masyarakat setempat.
Warga berharap proses hukum dapat berjalan transparan agar marwah lingkungan pendidikan agama di wilayah tersebut dapat dipulihkan dan pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal.
