Kepala SPPG Ulu Musi, Sebut Media Giring Opini Terkait Menu Rp 7 Ribu 

SUARAEMPATLAWANG.COM

​ULU MUSI – Menanggapi isu miring mengenai porsi kecil Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disebut hanya bernilai Rp 7.000 pada Senin (24/02), Johan Saputra yang mengaku Kepala SPPG Ulu Musi Kabupaten Empat Lawang, akhirnya angkat bicara. Bukan sekadar membantah, ia justru menuding balik bahwa pihaknya telah “berkorban” hingga over budget.

​Ia mengklaim porsi yang dibagikan pada tanggal tersebut justru menelan biaya jauh di atas angka yang dituduhkan.

Berikut adalah rincian “anggaran mewah” versi SPPG yang diklaim sebagai bukti mereka tidak pelit:

Telur Asin: Rp 5.000

​Tempe Bacem & Isian: Rp 2.000

​Bakpao: Rp 2.000

​5 Biji Kurma: Rp 1.500

“Untuk yang bapak foto itu porsi kecil terdiri dari telor asin Bebek seharga Rp. 5000, Tempe Bacem Rp 2000( pake kecap, Gula merah, tempe, Asam Jawa, bawang putih bawang merah), Buah kurma CATATAN: Isi yang kami salurkan untuk porsi kecil 5 buah biji kurma 1.500, Bakpau isi kelapa gula merah Rp 2000,” tulis saat menghubungi awak media.

​Meski bersemangat merinci porsi kecil, Kepala SPPG bungkam seribu bahasa dan enggan membeberkan berapa nilai riil untuk porsi besar kepada awak media.

​Ia berdalih bahwa setiap menu MBG yang adalah hasil perhitungan matematis yang ketat. Menurutnya, penentuan menu melibatkan “Tiga Serangkai” sakti:

•​Ahli Gizi: Memastikan standar kesehatan.

•​Chef (Tukang Masak): Mengeksekusi rasa.

•​Akuntan: Mengunci anggaran agar tetap “masuk akal”.

​Meski hari itu mereka mengklaim over budget, Kepala SPPG mengatakan tidak akan menyunat kualitas menu di hari-hari berikutnya demi menutupi pembengkakan biaya tersebut.

Ia juga enggan memberikan klarifikasi atas pemberitaan yang telah beredar.”Kami tidak perlu klarifikasi, karna yang membuat berita dan mengiring opini masyarakat adalah pihak kalian, jadi kami tidak berkewajiban untuk melakukan klarifikasi, karna yang kami salurkan sudah sesuai dengan pagu yang telah di keluarkan oleh BGN,” dalam keterangan tertulis kepada awak media, Selasa (25/2/2026).

​Sebagai catatan, dari total anggaran Rp 15.000 per porsi, aturan menetapkan bahwa hak bersih siswa adalah Rp 8.000 hingga Rp 10.000. Sisanya? Mengalir deras untuk:

Rp 3.000: Biaya operasional SPPG.

​Rp 2.000: Jatah “insentif” untuk pemilik SPPG.

​Jika porsi kecil saja menghabiskan Rp 10.500, dan ada potongan operasional serta insentif sebesar Rp 5.000, dari mana SPPG menutup lubang anggaran tersebut jika bukan dengan memangkas kualitas di hari lain?