SUARAEMPATLAWANG.COM
EMPAT LAWANG – Seorang oknum guru Bahasa Indonesia di SMPN 5 Tebing Tinggi, Kabupaten Empat Lawang berinisial CA (pemilik akun Facebook Caroline Ajach) menuai kecaman luas dari kalangan jurnalis. Hal ini dipicu oleh unggahan dan komentar sang guru yang dinilai merendahkan profesi wartawan, meski dirinya sendiri kedapatan melakukan kesalahan dasar dalam berbahasa.
Ketegangan bermula saat oknum guru yang diketahui merupakan istri Kepala Pasar di Empat Lawang ini, melontarkan kritik tajam terhadap kinerja wartawan. Ia menuding insan pers telah melakukan pembodohan publik dan dengan nada ketus menyuruh para wartawan untuk “belajar lagi” sebelum menulis berita.
Namun, alih-alih menunjukkan standar intelektual yang tinggi sebagai pengajar Bahasa Indonesia, unggahan sang guru justru dipenuhi kesalahan ketik (tipografi) yang fatal. Beberapa di antaranya yang menjadi bahan cemoohan netizen adalah:
Penulisan kata “dberuta” yang seharusnya “berita“.
Penulisan kata “depinisi” yang seharusnya “definisi“.
Penulisan kata “emoat” yang seharusnya “empat“
Puncak ketegangan terjadi pada Minggu (12/4), saat akun Caroline Ajach secara gamblang menyerang seorang wartawan bernama Dia. Dalam narasinya, ia menuding wartawan tersebut sebagai pencari berita yang hanya suka menjatuhkan orang lain dan menyebutnya sosok yang anti-kritik.
Sikap arogan yang dibangun oknum guru ini dinilai sangat melukai perasaan para kuli tinta yang bertugas di Kabupaten Empat Lawang. Mereka menyayangkan sikap seorang pendidik yang seharusnya menjadi teladan dalam bertutur kata dan beretika di ruang publik.
”Sangat ironis, seorang guru Bahasa Indonesia yang menganggap dirinya paling pintar dan menyuruh orang lain belajar, justru tidak mampu menulis kata ‘definisi’ dengan benar. Ini bukan sekadar urusan typo, tapi soal etika dan kesombongan yang tidak pada tempatnya,” ujar salah satu perwakilan awak media.
Merespons kegaduhan ini, sejumlah awak media di Empat Lawang sepakat untuk melakukan langkah konkret. Mereka berencana menggelar aksi damai dengan mendatangi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Empat Lawang dalam waktu dekat.
Mereka menuntut permintaan maaf secara langsung dan diunggah dimedia sosial serta pembinaan tegas terhadap oknum tersebut oleh Kepala Dinas Pendidikan.
