Demo atau Aksi Kriminal? Menyoal Penjarahan di Tengah Unjuk Rasa

Foto Tangkapan layar salah satu komentar penguna media sosial (fb) yang berniat ikut demo dan bakar kantor serta orang nya

SUARAEMPATLAWANG.COM

​Pada dasarnya, sebuah demonstrasi yang jujur bertujuan untuk menekan pemerintah agar membuat kebijakan yang pro-rakyat. Tuntutan biasanya terfokus pada isu-isu sosial, ekonomi, atau politik yang dianggap merugikan masyarakat. Ketika aksi tersebut berjalan sesuai koridor hukum dan etika, ia menjadi kekuatan yang sah dalam sistem demokrasi. Namun, ketika muncul tindak kriminal seperti penjarahan, maka esensi dari demonstrasi itu sendiri luntur.

Penjarahan bukan lagi soal menyampaikan aspirasi, melainkan soal memanfaatkan situasi untuk mendapatkan keuntungan material secara ilegal. ​Penjarahan yang terjadi saat demo seringkali bukan tindakan spontan. Ada dugaan kuat bahwa ada oknum-oknum tertentu yang sengaja menyusup dan memprovokasi massa.

Mereka memanfaatkan momen ketegangan dan kemarahan publik untuk menciptakan kekacauan. Bagi mereka, demo hanyalah kesempatan emas untuk melakukan kriminalitas berkedok perjuangan. Narasi “melawan ketidakadilan” seringkali digunakan sebagai pembenaran untuk menjarah atau merusak properti, termasuk rumah pejabat.

Aksi ini tidak hanya merugikan korban, tetapi juga mencoreng nama baik demonstran yang sesungguhnya tulus berjuang.

​Mengapa hal ini bisa terjadi? Seringkali, oknum-oknum ini beranggapan bahwa masyarakat yang ikut demo adalah kelompok yang emosional dan mudah diprovokasi. Mereka memainkan sentimen kebencian terhadap pejabat atau pemerintah, menciptakan ilusi bahwa tindakan anarkis adalah bentuk “perlawanan heroik.”

Mereka menyebarkan informasi yang salah atau memutarbalikkan fakta untuk membenarkan tindakan mereka. Masyarakat yang tidak kritis dan mudah terprovokasi akan terjerumus dalam aksi destruktif ini, tanpa menyadari bahwa mereka sedang dimanfaatkan. Ironisnya, mereka yang seharusnya berjuang untuk kebaikan bersama justru menjadi alat bagi segelintir orang yang hanya mementingkan diri sendiri.

​Masyarakat harus sadar bahwa tidak semua yang berteriak lantang di jalanan adalah pejuang sejati. Penting bagi kita untuk bersikap kritis, tidak mudah terhasut, dan memahami perbedaan antara aspirasi yang tulus dan niat jahat yang bersembunyi.

Demonstrasi yang ideal adalah yang mampu menyalurkan tuntutan secara damai dan bermartabat, tanpa merusak atau merugikan orang lain. Apabila sebuah aksi sudah mengarah pada kekerasan dan penjarahan, itu bukan lagi demonstrasi, melainkan tindak kejahatan. Masyarakat harus berani menolak dan melaporkan oknum-oknum seperti ini agar esensi perjuangan tetap terjaga. Mari bersama-sama membangun gerakan yang cerdas, bukan yang anarkis.