SUARAEMPATLAWANG.COM
EMPAT LAWANG – Bagi sebagian orang, nominal ratusan ribu rupiah mungkin hanya angka yang lewat dalam sekejap. Namun, bagi delapan orang tenaga medis di Rumah Sakit (RS) Pratama Pendopo, Kabupaten Empat Lawang, angka tersebut adalah simbol kehormatan yang telah mereka nantikan selama dua tahun lamanya.
Sejak tahun 2024, hak berupa insentif yang seharusnya menjadi penyemangat kerja sempat terhenti. Namun, angin segar akhirnya berembus di awal tahun ini. Pada bulan Januari dan Februari 2026, penantian panjang itu resmi berakhir.
Meskipun jumlah yang diterima bervariasi—berkisar antara Rp 150.000 hingga Rp 900.000-an—bagi kedelapan pejuang kesehatan ini, nilai moneter bukanlah poin utamanya. Uang tersebut hadir sebagai bentuk pengakuan negara atas keringat dan waktu yang mereka curahkan demi kesehatan masyarakat Pendopo.
”Ini bukan soal besar atau kecilnya jumlah, tapi soal dihargainya pengabdian kami. Selama dua tahun kami tetap bertahan meski tanpa insentif, semata-mata karena tanggung jawab moral kepada warga Empat Lawang,” ungkap salah satu tenaga medis dengan nada syukur, Selasa (17/3).
Selama masa kekosongan insentif dua tahun belakangan, pelayanan di RS Pratama Pendopo tetap berjalan. Hal ini membuktikan bahwa dedikasi mereka melampaui kepentingan materi. Namun, cairnya insentif di awal 2026 ini seolah menjadi “suplemen” semangat baru bagi mereka untuk terus memberikan pelayanan terbaik.
Kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini juga dibarengi dengan secercah harapan kepada pihak manajemen dan pemerintah daerah. Mereka berharap manajemen tidak lagi macet membayarkan insentif yang selama dua tahun tidak mereka terima.
Delapan tenaga kesehatan ini adalah wajah dari ketulusan di ujung tombak pelayanan publik. Dengan cairnya insentif ini, mereka kini menatap tahun 2026 dengan optimisme baru, membawa misi mulia: mewujudkan masyarakat Pendopo yang lebih sehat dan sejahtera.
