Kasus PT SNI: Visum Kilat, Pelaku Ditembak, Polda Turun Tangan, Kasus Rakyat Jelata Penuh Birokratis

SUARAEMPATLAWANG.COM

EMPAT LAWANG -Sabtu (13/6), sebuah rilis pers mengungkap keberhasilan polisi Polres Empat Lawang dibantu Polda Sumatera Selatan meringkus pelaku tindak pidana pencurian dengan kekerasan serta pengeroyokan terhadap karyawan PT SNI di Taba, Kecamatan Saling. Prosesnya luar biasa cepat.

​Hasil visum keluar hanya dalam hitungan jam setelah laporan dibuat. ​Penangkapan pelaku sukses dieksekusi hanya satu hari pasca-kejadian. ​Atensi luar biasa bahkan memicu tim dari Mapolda Sumatera Selatan untuk turun langsung ke lapangan memburu pelaku.

​Ketegasan aparat begitu terasa. Salah satu terduga pelaku bahkan terpaksa dihadiahi timah panas dengan alasan melawan petugas, dan kini dalam kondisi kritis di RSUD Empat Lawang. Sebuah penegakan hukum yang agresif, responsif, dan tanpa kompromi.

Sedangkan ​Kasus Siswa SMA Ulu Musi menunggu Berminggu-minggu dalam Ketidakpastian.

​Kondisi ini berbanding terbalik 180 derajat dengan nasib yang menimpa seorang siswa SMA di Ulu Musi. Remaja di bawah umur tersebut dikeroyok oleh tiga orang wanita pada pertengahan Mei lalu (19/5).

​Jika kasus korporasi selesai dalam sehari, kasus rakyat jelata ini harus melewati drama birokrasi.

​Jangankan penangkapan atau tindakan tegas, polisi baru menggelar perkara dan menaikkan status ke tahap penyelidikan setelah visum keluar. Hingga kini, belum ada satu pun tersangka yang ditetapkan, apalagi upaya jemput paksa. Akibat kelambatan ini, para pelaku dengan mudah melenggang kabur.

​Pengeroyokan remaja yang jelas-jelas lebih rentan justru berjalan di tempat, sementara kasus yang melibatkan petinggi perusahaan mendapat pengawalan VIP dari kepolisian?

​Ada Apa dengan Atensi “Khusus”?

Begitu juga kasus penganiayaan terhadap Dodi warga Rantau Dodor yang mengalami luka dari pinggang hingga ke perut yang terjadi pada 28 Mei lalu hingga kini pelaku belum juga ditangkap.

​Publik pun mulai bertanya-tanya apa

urgensinya hingga tim Polda rela jauh-jauh datang ke Empat Lawang demi memburu pelaku kriminal biasa di area perusahaan?

Apakah kekuatan modal dan pengaruh pelapor mampu mendikte kecepatan kerja aparat?

​Banyak kasus kriminal lain yang jauh lebih sadis di wilayah ini yang justru jalan di tempat. Tim lokal pun sering kali tampak kesulitan bergerak.

​Realita pahit ini seolah mengonfirmasi sinisme yang berkembang di masyarakat: jika yang melapor adalah orang berpengaruh, hukum akan bergerak secepat kilat bahkan peluru pun siap menyalak. Namun jika yang melapor adalah rakyat biasa, keadilan adalah sesuatu yang harus ditebus dengan kesabaran yang tanpa batas.

Masyarakat sangat mengapresiasi tindakan cepat dari polisi namun masyarakat meminta alangkah baiknya jika polisi tidak memilah-milah kasus mana yang harus dipercepat penangannya.

Karena dengan penangkapan ini polisi seakan akan memilah-milah kasus yang diungkap, nah polisi juga harus menangkap dengan cepat pelaku kriminal pengeroyokan siswa SMA serta penganiayaan terhadap Dodi di Rantau Dodor. Bahkan kalo perlu Jatanras Polda juga harus ikut menangkap, jangan hanya datang ke empat lawang untuk ungkap kasus tertentu saja.

Kita lihat saja apakah Tim Jatanras juga mau ikut membantu menangkap tiga pelaku pengeroyokan terhadap siswi SMA dan penganiayaan berat terhadap Dodi yang harus menjalani operasi akibat luka bacok yang begitu menyayat hati.