oleh

Balai Besar Gunakan Jasa Konsultan Nasional di Proyek Irigasi PAIKER Rp 42,9 Miliar Yang Hancur Lebur………….

SUARAEMPATLAWANG.COM

Dalam selebaran yang diterima awak media bagian pelaksana kegiatan irigasi dan rawa II, SNVT PJPA Sumatera VIII Provinsi Sumatera Selatan Balai Besar Wilayah Sungai VIII, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat akan menggunakan layanan jasa Konsultan Nasional untuk membantu PPK irigasi II dalam pengawasan/supervisi pelaksanaan konstruksi pekerjaan Rehabilitasi D.I Air Keruh Kabupaten Empat Lawang, tahap 2 paket II yang tapi meliputi tidak terbatas pada aspek pengendalian waktu, biaya dan mutu konstruksi. Untuk itu konsultan harus menyiapkan tim ahli dan tenaga pendukung yang bekerja secara penuh dan berada di lokasi pekerjaan selama pelaksanaan konstruksi.

Adapun ruang lingkup jasa konsultasi meliputi :

Lingkup pekerjaan

– Membantu PPK irigasi dan rawa II mengawasi dan mengkoordinasi pelaksanaan kegiatan konstruksi untuk paket Pekerjaan Rehabilitasi D.I Air Keruh Kabupaten Empat Lawang Tahap II paket 1 dan Rehabilitasi D.I Air Keruh Kabupaten Empat Lawang Tahap II Paket 2 secara administrasi dan tehnik.

– Melaksanakan revisi desain/menyusun desain tambahan yang diperlukan, mengawasi hasil dari kajian geologi yang dilaksanakan pihak ketiga dalam rangka pelaksanaan revisi desain/desain tambahan tersebut (jika diperlukan).

Nyatanya walau sudah menggandeng layanan jasa Konsultan Nasional proyek Irigasi yang dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang fantastis (Rp 42,9 Miliar) proyek irigasi yang dikerjakan PT. Usaha Nata Lestari Sejahtera dengan anggaran Rp 22.590.558.120 dan PT. Radot Bangun Perkasa dengan anggaran Rp 20.425.013.765,64 tetap amburadul.

Menurut warga sejak dibangun, irigasi belum bisa dimanfaatkan untuk mengaliri aliran sawah warga, akibatnya dalam dua (2) kali masa tanam warga di tujuh desa tidak dapat lagi menanam padi dan menggantinya dengan bertanam jagung.

Warga berharap pihak terkait dapat memperbaiki irigasi ini mengingat sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup dari hasil persawahan.

“Dengan adanya irigasi ini petani dirugikan karena tidak bisa menggarap sawah, pihak pekerja tidak membuat pintu air sehingga areal sawah menjadi kering. Sekarang masyarakat mengganti tanaman padi menjadi jagung, sehingga pendapatan masyarakat berkurang. Kami berharap irigasi ini segera diperbaiki,” ungkap Imron warga Paiker Selasa 4 Juni 2024.

Senada dengan Imron Warga Talang Padang Kecamatan Paiker Giman mengatakan hal yang sama. Ia meminta pemerintah segera memperbaiki proyek irigasi agar masyarakat kembali bisa menggarap sawah.” Dulu kami petani sawah sekarang sudah lebih dari satu (1) tahun tidak ada air ke sawah kami. Saat ini kami menanam jagung sampai irigasi ini diperbaiki,” tutur Giman dilokasi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *